LifeStyle

Kawa Daun, Minuman Zaman Belanda yang Masih Bisa Dinikmati di Ranah Minang

ilustrasi (kawa daun)

 

linkarnews.com - Secangkir kopi sering dijadikan sebagai minuman sebelum memulai aktifitas di pagi hari, pengantar siang, maupun 'teman' tak kala bersantai di malam hari bersama para sahabat dan handai taulan.  Tak hayal minuman yang memiliki cita rasa khas ini sudah begitu familiar bagi masyarakat di seluruh pelosok dunia.

Tak hanya satu, bermacam jenis hidangan berbahan dasar biji tumbuhan bernama latin coffea itu pun mulai di kembangkan seiring bertambahnya kreasi dan selera para penikmatnya, ada kopi pahit, kopi manis, kopi susu, es kopi dan bermacam minuman  lainnya, semua minuman yang memanjakan lidah tersebut.

Pada umumnya yang diolah menjadi minuman adalah biji kopi, namun di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) ada satu yang unik, yaitu minuman yang dihidang merupakan larutan dari daun kopi. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Kawa Daun (Kopi Daun).

Salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Y Dt Maka mengatakan, dalam sejarahnya, pembuatan kopi dari daun tumbuhan  kopi ini erat kaitannya dengan kehidupan sulit masa penjajahan belanda silam.

Kopi merupakan salah satu komoditi yang bernilai tinggi di Eropa. Harganya yang tinggi menyebabkan semua biji kopi harus diserahkan kepada Belanda melalui pengumpulan di gudang – gudang kopi (koffiepakhuis). Masyarakat Minangkabau zaman itu dipaksa untuk menanam kopi dan seluruh hasil panen diekspor ke luar negeri tanpa meninggalkan satu biji pun.

" Akibat dari kebijakan itulah, warga pribumi tidak mendapat kesempatan untuk menikmati minuman hasil jerih payah sendiri dan mencari alternatif lain yaitunya menjemur daun kopi kemudian  direbus dan diberi gula, " ujarnya saat bercerita dengan covesia.com, Rabu (05/09).

Masyarakat percaya, daun kopi masih mengandung kaffein. Banyak yang mengatakan, pengolahan daun menjadi  kawa sama rasa dan efeknya seperti minuman olahan  biji kopi. Kawa daun memiliki keunikan tersendiri yaitu berpadunya rasa antara teh dan kopi. Aromanya terasa lebih ringan dan lembut, sementara warnanya pun lebih jernih dari kopi, bahkan cenderung mirip dengan warna teh.

Dalam penyajiannya, kawa daun tidak dinikmati dengan menggunakan gelas atau cangkir, namun menggunakan wadah dari tempurung kelapa yang diberi tatakan bambu. Hal tersebut juga ikut menambah kekhasan citarasa dari Kawa Daun.

Seiring berjalannya waktu, minuman dari seduhan daun kopi masih tetap di nikmati masyarakat, bahkan beberapa warung di Kabupaten Agam dan kota Bukittinggi menyediakan minuman kawa daun bahkan penyajiannya ada juga yang dicampur susu atau cream.

Salah seorang penikmat kawa daun asal Pesisir Selatan Usman Bhakti (28) mengatakan, ia kerap nongkrong di warung atau kedai penyedia kawa daun jika sedang berkumpul bersama teman-teman di Agam. 

“Kami sering nongkrong di daerah Biaro di Kecamatan Baso. Di kedai itu satu cangkirnya, kawa daun di harga Rp4 ribu, dan jika di campur susu, harganya menjadi Rp 7 ribu, lebih terasa nikmat jika diminum malam hari sambil di temani gorengan hangat, “ terang Bhakti. 


Loading...

Loading...

[Ikuti LinkarNews.Com Melalui Sosial Media]






Loading...