Serambi Islam

Ibnu Battuta Musafir Muslim Abad ke-14

Ibnu Batutta

 

"Common Sense" Ishadi SK

 

linkarnews.com - Saya baru saja membaca buku tentang petualangan Ibnu Battuta karya Ross E. Dunn, profesor sejarah pada San Diego State University. Buku yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia itu meminta Prof. Dr. Taufik Abdullah untuk memberikan Kata Pengantar. Menurut saya, Prof. Dr. Taufik Abdullah adalah salah satu penulis sejarah Islam Indonesia yang paling mumpuni sekarang ini.

Ibnu Battuta lahir di Maroko tahun 1304 (703 H), putera keluarga ulama fikih di Tangier, Maroko. Ibnu Battuta adalah pengelana yang sebagian besar hidupnya, yaitu sepanjang 30 tahun, dihabiskan untuk melakukan perjalanan dari Maroko ke Mesir, Afrika Utara, Afrika Tengah, sampai ke China melewati perjalanan darat dan laut sejauh tidak kurang dari 13.000 kilometer, melewati 44 negeri di Eropa, Afrika, Timur Tengah, Jazirah India, Srilanka, Sumatera, Malaysia, Vietnam, hingga Beijing Utara yang waktu itu masih dikuasai Bangsa Mongol.

Lima puluh tahun sebelumnya, pengelana Venesia, Marco Polo (lahir 1254 M), tepat setengah abad sebelum Ibnu Battuta juga melakukan penjelajahan lewat Jalan Sutera ke Tiongkok. Berlatar belakang pedagang, Marco Polo selama 24 tahun berkelana sekaligus berniaga dengan pedagang-pedagang di Persia, Konstantinopel (Istanbul), India, Indonesia, dan China. Marco Polo kemudian menjadi sangat terkenal dalam literasi buku-buku maupun catatan sejarah, sehingga oleh masyarakat Eropa dikenal secara luas sebagai seorang pengelana terbesar yang pernah menjelajahi wilayah Persia, Konstantinopel, India, hingga daratan China.

Ibnu Battuta menyelesaikan kisah perjalanannya dalam sebuah buku Ar-Rihlah yang artinya perlawatan, yang selesai ditulisnya pada tahun 1355. Meskipun Ar-Rihlah menjadi rujukan para penulis Islam selama berabad-abad kemudian, Ar-Rihlah baru dikenal orang di luar dunia Islam pada permulaan abad ke-19, 400 tahun sesudahnya tatkala musafir sekaligus penjelajah Jerman Ulrich Jasper Seetzen (1767-1811) mendapatkan sekumpulan naskah di Timur Tengah, di antaranya sejilid naskah setebal 94 halaman yang berisi salah satu versi ringkas dari Ar-Rihlah Ibnu Battuta. Sejak itu, berbagai pengkaji dan universitas ternama di Jerman, Prancis, Swiss, dan Universitas Cambridge Inggris berlomba-lomba untuk mengkaji buku petualangan Ibnu Battuta.

Marco Polo menjadi hero di kalangan bangsa Eropa karena pengalamannya berkelana lewat darat maupun laut ke wilayah timur, India, Persia, dan China. Orang-orang Barat dengan cara sepihak menyempitkan sejarah dunia dengan cara mengelompokkan pihak kecil yang mereka ketahui penyebaran ras manusianya berada hanya di sekitar bangsa-bangsa Israel, Yunani, dan Romawi. Jadi, mereka telah mengabaikan semua musafir dan peneliti yang berlayar mengarungi lautan China, Samudera Hindia sampai ke Teluk Persia. Orang-orang Barat pada masa itu hanya menulis sejarah dunianya yang kecil, walaupun ada kesan mereka telah menulis sejarah dunia (Henry Kordier, Cambridge, 1971). Padahal dalam kurun waktu 50 tahun setelah perjalanan Marco Polo, seorang pengelana Muslim, Ibnu Battuta telah melakukan perjalanan dan melewati negeri-negeri Islam dalam jarak yang dua kali lebih jauh dari perjalanan Marco Polo.

Memang kelebihan Ibnu Battuta pada dasarnya ia adalah seorang ulama yang khusus mempelajari lewat perjalanan darat maupun laut sejarah peradaban Islam yang memanjang dari Maroko, Afrika, Jazirah Arab, Kepulauan Maldives, Pakistan, India, Srilanka, Indonesia, Malaysia, dan daratan China. Dari buku setebal 400 halaman karya Ross E. Dunn ini, saya kemudian fokus pada kisah perjalanannya ke sebuah kerajaan Islam pertama di Sumatera, bernama Kesultanan Samudera Pasai, sebuah kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Apa yang dituturkan oleh Ibnu Battuta ketika ia dua kali singgah di Kerajaan Samudera Pasai menunjukkan sudah terdapat kerajaan Islam yang menjadi pusat kegiatan perdagangan dan lalu lintas pelayaran tersibuk di Selat Malaka. Pasai juga merupakan tempat singgah lalu lintas pelayaran dari Eropa, Mesir, Jazirah Arab, Persia, Turki ke China. Perjalanan dari Pasai ke China Selatan ditempuh Ibnu Battuta selama 4 bulan.

Menurut Ibnu Battuta, ia berada di Kesultanan Samudera Pasai ini selama dua minggu dalam perjalanannya ke China, dan singgah lebih lama dalam perjalanan pulang ke Maroko. Ibnu Battuta sangat menghormati Sultan al-Malik az-Zahir sebagai penguasa yang paling hebat, terbuka, dan pecinta ulama. Meskipun Baginda tidak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seseorang yang rendah hati, yang senantiasa berjalan kaki pergi ke masjid untuk Salat Jumat.

Pada hari keempat saya berada di Samudera, hari Jumat, Amir Dawlasa datang kepada saya dan berkata, "Tuan dapat memberi penghormatan kepada Sultan di serambi kerajaan, di masjid, sehabis salat". Setelah salat saya menemui Sultan; Baginda menjabat tangan saya dan saya memberi hormat kepadanya. Setelah itu Banginda menyuruh saya duduk di sebelah kirinya, dan ia pun bertanya soal Sultan Muhammad dan tentang perjalanan saya. Baginda tetap berada di masjid sampai selesai Salat Ashar, kemudian Baginda pindah ke sebuah bilik, membuka baju yang dipakainya (yaitu jubah yang biasa dipakai oleh para ulama dan selalu dipakai Sultan setiap kali Baginda datang ke masjid untuk Salat Jumat) dan mengenakan jubah kebesarannya. Sewaktu ia meninggalkan masjid, gajah dan kuda telah menanti di pintu gerbang. Adat kebiasaan mereka adalah jika Sultan naik gajah, maka para pendampingnya naik kuda, atau sebaliknya. Pada waktu itu, Baginda naik gajah, maka kami menunggang kuda dan pergi dengan Baginda ke majelis persidangan.

Ibnu Battuta telah mengenal kerajaan Pasai sejak masih berada di Kalkuta (India). Dalam kisah perjalanannya ia bisa bercerita tentang hilir mudiknya pedagang dari berbagai wilayah di India, Malaysia, dan China ke kota dagang itu. Dalam versi yang lengkap dari kisah perjalanannya Ibnu Battuta menceritakan tentang para ulama yang berdatangan dari berbagai negeri Islam, khususnya Persia. Dalam kisahnya itu jelas terlihat wawasan luas Sang Raja. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Ibnu Battuta ketika mereka bertemu dengan jelas memperlihatkan cakrawala perhatian penguasa dari kerajaan Islam tertua di Nusantara itu.

Dalam berbagai inskripsi yang ternukil di kompleks pemakaman Raja-Raja Samudera Pasai yang ditulis dalam Bahasa Arab dikatakan bahwa Sultan al-Malik az-Zahir disebut sebagai cahaya dunia dan sinar agama. Berbagai kesaksian sejarah kemudian memperlihatkan bahwa berita Ibnu Battuta tentang raja yang dikelilingi para ulama ini rupanya awal dari terbentuknya sebuah kerajaan maritim Islam di Nusantara. Begitulah dalam sejarah Asia Tenggara atau Indonesia, kisah perjalanan Ibnu Battuta selalu dikenang sebagai salah satu sumber sejarah tentang situasi Nusantara di pertengahan abad ke-14, termasuk kehidupan intelektual di Istana. Karena itu tidak mengherankan bila setiap kali membicarakan sejarah masa awal Islam di Indonesia, hampir tidak ada karya akademis yang melupakan nama dan kesaksian Ibnu Battuta.

Tidak mungkin saya membeberkan lebih banyak kisah perjalanan Ibnu Battuta dalam dua kali lawatan di Kerajaan Samudera Pasai di kawasan utara Sumatera yang kini termasuk dalam kawasan Provinsi Aceh. Meskipun demikian, membaca buku Petualangan Ibnu Battuta mestinya kita tergerak untuk mengingat keberadaan kesultanan Islam pertama di Indonesia di akhir abad ke-13 (seusia dengan Kerajaan Majapahit di ujung timur Pulau Jawa). 

Alangkah indahnya kalau pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam mempertimbangkan untuk membangun replika pusat kerajaan Samudera Pasai dalam bentuk museum ataupun rumah ibadah yang menggunakan arsitektur masjid di masa Sultan al-Malik az-Zahir pada abad ke-13 sebagai kenangan bahwa pada abad ke-13 telah berdiri kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang menjadi tempat persinggahan pelayaran dan perdagangan Muslim dari Afrika, Mesir, Jazirah Arab ke China (Mongolia). Biarlah lewat replika peninggalan sejarah ini warga Aceh khususnya dan umat Islam Indonesia umumnya, menyimak tapak sejarah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang diketahui dari catatan perjalanan musafir besar Muslim abad ke-14, Ibnu Battuta.

Ishadi SK Komisaris Transmedia
 


Loading...

Loading...

[Ikuti LinkarNews.Com Melalui Sosial Media]






Loading...