Profile

Berpuasa Mengatasi Sumber Masalah Dalam Hidup

DR. Oni Sahroni, MA - Dai PKPU, DSN M

 

Oleh DR. Oni Sahroni, MA

 

linkarnews.com - Sesungguhnya perintah dan larangan Allah SWT bertujuan memenuhi kebutuhan manusia. Dalam bab larangan (manhiyat), jika Allah SWT melarang suatu hal, maka hal itu pasti membahayakan manusia. 

 

Jika Allah SWT mengharamkan suatu perkara, maka perkara tersebut pasti merugikan manusia. Maknanya, setiap yang melakukan maksiat kepada Allah SWT, maka ia telah membahayakan dan merugikan diri, masyarakat, dan bangsanya.

 

Jika melihat daftar masalah yang terjadi di masyarakat, maka daftar masalah tersebut menunjukan relevansinya dengan kaidah di atas. Sebutlah misalnya, KDRT, korupsi, money politic, pengangguran, pencurian, pornograpi, transaksi ribawi dan sejenisnya. 

 

Praktik-praktik tersebut adalah kemaksiatan kepada Allah SWT yang tidak hanya merugikan pribadi pelakunya tetapi juga masyarakat, bahkan bangsa.

 

Suami yang berbuat kasar hingga menganiaya istrinya, sesungguhnya telah berbuat kemaksiatan. Seseorang yang melakukan korupsi terhadap dana negara, sesungguhnya ia telah berbuat maksiat. Seseorang yang melakukan money politic, sesungguhnya ia telah berbuat dosa. Maka, ternyata masalah-masalah keluarga, masyarakat dan bangsa ini adalah akibat dari perbuatan maksiat dan dosa.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (7), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8). Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (9), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10) (Surat Asy-Syams ayat 7-10).

 

Ayat-ayat ini telah memberikan tuntunan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berbuat fasik (maksiat), juga berpotensi untuk berbuat amal saleh. Hanya orang–orang yang mensucikan diri itu yang bisa melakukan kebaikan dan amal saleh dan mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan maksiat.

 

Tuntunan Ilahi (taujih Ilahi) di atas menyiratkan bahwa individu dan pribadi adalah sumber masalah. Jika ada diskusi tentang upaya menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini, maka diskusi tentang pembinaan individu dan pribadi muslim menjadi prioritas pertama.

Ramadan adalah momentum yang tepat untuk menguatkan faktor pengendalian diri pada setiap pribadi Muslim. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah; 183). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan disyariatkannya puasa (shiyam) adalah menumbuhkan ketakwaan pada diri setiap muslim agar bisa beribadah kepada Allah SWT sebagaimana tujuan penciptaannya.

 

Ketakwaan yang dimaksud dalam ayat ini berarti kemampuan melaksanakan perintah Allah SWT. Ketakwaan juga berarti kemampuan meninggalkan larangan Allah atau kemampuan mengendalikan diri untuk tidak melakukan dosa dan maksiat. Makna ketakwaan ini sejalan dengan makna mensucikan diri dalam surat Asy-Asyams ayat 7-10 di atas.

 

Karena manfaat puasa yang sangat penting tersebut, maka status puasa menjadi ibadah yang diwajibkan, menjadi salah satu Rukun Islam dan menjadi salah satu perkara yang wajib diketahui oleh setiap Muslim (al-ma’lum mina dini bi ad- dharurah).

 

Jika setiap pribadi Muslim telah berpuasa dengan benar; mengikuti syarat, rukun dan adab-adab berpuasa, maka ia telah berikhtiar meraih ketakwaan. Dan pada saat yang sama telah mengikis masalah yang timbul pada diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. (***)


Loading...

Loading...

[Ikuti LinkarNews.Com Melalui Sosial Media]






Loading...