LifeStyle

Mata-mata Rusia Jadikan Seks Sebagai Senjata Pamungkas

Ilustrasi

 

linkarnews.com - Mantan agen mata-mata ganda Rusia, Sergei Skripal, yang didakwa berkhianat di Moskow, saat ini mengalami kondisi kritis akibat terkena zat yang tak teridentifikasi atau racun.
 
Bagi Rusia, dia adalah pengkhianat. Pria ini membohongi agen Rusia demi Dinas Rahasia Inggris M16, dengan imbalan uang.
 
Sepak terjang Skripal mengingatkan pada masa era Perang Dingin di tahun 1950-1990. Saat itu terjadi perang antara mata-mata Blok Barat dan Blok Timur. Masing-masing pihak mencuri data-data soal persenjataan saingan mereka. Terutama informasi bom-bom nuklir yang mampu membuat dunia kiamat dengan sekali tekan tombol.
 
Dunia spionase tak jauh dari urusan tipu muslihat dan seks. Pihak Blok Timur yang dikomandani Uni Soviet dan Rusia pun benar-benar bekerja keras mendidik para wanita cantik untuk dijadikan agen dan mata-mata. Lembaga KGB yang berwenang untuk pekerjaan ini. Sebuah lembaga superpower yang mengurusi keamanan dan intelijen.
 
Penulis David Lewis menuliskan hal itu dalam buku Sexpionage. Dia mewawancarai Vera, salah satu agen KGB yang menyeberang ke Blok Barat. Vera menuturkan semua mata-mata cantik KGB diberi sandi 'Burung layang-layang'.
 
Ribuan diplomat NATO terjerat para burung layang-layang cantik ini. Mereka pun berhasil mencuri informasi penting dari teman tidur mereka.
 
Banyak duta besar, diplomat, pejabat militer, atase pertahanan yang kaget setengah mati mendapati foto-foto mereka sedang berhubungan intim tiba-tiba dikirim ke kantor. Mereka baru sadar, wanita cantik yang mereka tiduri adalah mata-mata.
 
KGB merekrut mereka dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus dari seluruh Rusia. Sengaja dipilih wanita-wanita paling cantik dengan kecerdasan di atas rata-rata. Mereka dijanjikan mendapat gaji dan berbagai fasilitas lain yang terbilang mewah untuk negara komunis. Kecantikan para wanita Eropa Timur memang di atas rata-rata.
 
Setelah direkrut, para wanita cantik itu dibawa ke kamp khusus yang letaknya dirahasiakan. Kamp itu dijaga sangat ketat.
 
Para wanita ini dilatih untuk meninggalkan rasa malu mereka. Memikat dan melayani pria untuk kepentingan negara.
 
"Kepada kami dikatakan bahwa kami harus ingat, kami adalah prajurit yang bertempur di garis depan pertarungan ideologi yang pahit," beber Vera, mantan mata-mata KGB menceritakan pengalamannya di kamp itu.
 
Mereka dipaksa untuk menjadikan tubuh mereka sebagai senjata. Hubungan intim tak ubahnya seperti aktivitas sehari-hari. Tanpa perasaan atau napsu lagi. Mereka cuma berpikir untuk melakukan tugas.
 
"Menjelang selesainya latihan, kami telah menjadi keras, sebagaimana telah ditentukan oleh atasan," beber Vera.
 
Senjata paling mematikan Rusia bukanlah bom-bom nuklir. Tapi para wanita cantik yang menjebak lawan-lawan mereka. Perang dunia mata-mata memang punya seribu cerita. (***)
 
 
 
 
 
sumber: merdeka.com


Loading...

Loading...

[Ikuti LinkarNews.Com Melalui Sosial Media]






Loading...