Besok 21 Maret 2018, Hari Tanpa Bayangan
ilustrasi

Besok 21 Maret 2018, Hari Tanpa Bayangan

Selasa, 20 Maret 2018|17:19:44 WIB



 
linkarnews.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memberikan tips sederhana bagi masyarakat yang ingin menguji kebenaran hari tanpa bayangan yang terjadi pada esok hari, Rabu (21/3/2018).
 
Seperti dikatakan oleh Rhorom Priyatikanto dari Pusat Sains Antariksa LAPAN, masyarakat bisa memanfaatkan benda panjang yang memiliki tingkat kelurusan, seperti halnya balok.
 
"Pada saat itu bayangan pada sebuah tonggak yang berdiri tegak, tidak akan memiliki bayangan," kata Rhohom saat dihubungi via telepon genggam, Selasa (20/3/2018).
 
Namun, kata Rhohom, pengujian hari tanpa bayangan ini tidak berlaku bagi pohon rindang karena akan tetap mempunyai bayangan sampai menggunakan telapak tangan sebagai pengukuran.
 
Selain itu, pengujian tersebut baiknya dilakukan sebelum dan setengah tengah hari. Sebab, pada kondisi tersebut, tentunya masih terlihat dengan jelas bayangan dari suatu benda akibat sinar Matahari.
 
"Perhatikan saat adzan Dzuhur karena waktu di berbagai daerah itu berbeda-beda, jadi perhatikan kapan waktu adzan Dzuhur untuk mengetahui hari tanpa bayangan," tuturnya.
 
Dijelaskan LAPAN, fenomena hari tanpa bayangan yang terjadi pada esok hari, tak hanya berlansung di Pontianak saja, tetapi juga daerah yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Misalnya di Bonjol, Bontang, Riau, Parigi Moutong, Kepulauan Kayoa, Amberi, hingga Gebe.
 
Kejadian seperti ini berlangsung dua kali dalam setahun. Pertama pada esok hari dan peristiwa berikutnya terjadi pada 23 September 2018.
 
Dengan demikian, saat tengah hari, apabila seseorang berada di wilayah khatulistiwa, maka Matahari akan berada hampir tepat di atas kepala. Hal ini mengakibatkan tidak adanya bayangan. Istilahnya yaitu hari nir bayangan atau hari tanpa bayangan. 
 
Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong, sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.
 
Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang equator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.
 
Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia.
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : dtc






Berita Terkait

Baca Juga Kumpulan Berita Nasional

MORE

MOST POPULAR ARTICLE